Rabu, Januari 21, 2026

Dramatis di Bulusaraung: Evakuasi Tebing 300 Meter, Korban Kedua ATR 42-500 Teridentifikasi

Maros || Daftar Hitam News.Id — Operasi kemanusiaan pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, kembali mencatat perkembangan penting. Setelah melalui proses evakuasi ekstrem di medan terjal, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Gabungan memastikan identitas korban kedua yang berhasil dievakuasi.

Korban kedua dievakuasi dari bawah tebing sedalam kurang lebih 300 meter menuju puncak Bulusaraung, sebelum kemudian dilakukan repling kembali ke bawah sedalam sekitar 200 meter dari puncak.

Proses ini dilakukan oleh Tim SAR Gabungan dengan teknik khusus mengingat kondisi medan yang curam, licin, dan berisiko tinggi.Berdasarkan data yang dipublikasikan media ini semalam, proses evakuasi dimulai sejak pukul 10.00 WITA.

Setelah menempuh jalur vertikal yang menguras tenaga dan waktu, tim akhirnya tiba di puncak Bulusaraung pada pukul 17.15 WITA. Selanjutnya, jenazah korban diturunkan secara bertahap hingga tiba di Posko DVI pada pukul 22.20 WITA untuk menjalani proses identifikasi.

Seiring proses evakuasi tersebut, Tim SAR Gabungan juga menemukan sejumlah bagian penting pesawat di sektor selatan Gunung Bulusaraung, yang lokasinya berdekatan dengan titik ditemukannya korban kedua.

Temuan tersebut meliputi bagian kepala pesawat (cockpit), enam kursi pesawat, serta mesin pesawat. Seluruh temuan telah diamankan dan dicatat sebagai bagian dari tahapan investigasi.

Sementara itu, hasil identifikasi resmi disampaikan oleh Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Pol. dr. Muhammad Haris, M.A.R.S., QHIA. Ia menyatakan bahwa jenazah dengan nomor PM 62 B.01 dinyatakan cocok dengan data antemortem nomor AM 004 dan telah teridentifikasi atas nama Florensia Lolita Wibisono (33).

“Hasil pemeriksaan menunjukkan jenazah PM 62 B.01 cocok dengan data antemortem AM 004 dan telah teridentifikasi atas nama Florensia Lolita Wibisono,” jelas Kombes Pol. dr. Muhammad Haris.

Ia menjelaskan, pada Rabu, 21 Januari 2026, Tim DVI Gabungan menerima satu kantong jenazah yang kemudian menjalani rangkaian pemeriksaan forensik secara menyeluruh.

Proses identifikasi dilakukan dengan metode ilmiah berlapis, melibatkan pemeriksaan medis forensik, odontologi, serta pencocokan data antemortem dari pihak keluarga.

Tim DVI Gabungan terdiri dari Biddokkes Polda Sulsel, didukung Tim DVI Pusdokkes Polri, Tim Inafis Polda Sulsel, Pusident Polri, serta Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., turut meninjau langsung proses identifikasi bersama sejumlah pejabat utama, di antaranya Karo Dokpol Pusdokkes Polri Brigjen Pol. dr. A. Nyoman Eddy Purnama Wirawan, DFM., Sp.F, Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, Kapusident Bareskrim Polri Brigjen Pol. Mashudi, serta Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Pol. dr. Muhammad Haris.

Medan ekstrem Bulusaraung, cuaca pegunungan yang cepat berubah, serta keterbatasan akses menjadi tantangan utama dalam operasi ini. Meski demikian, sinergi lintas instansi memungkinkan evakuasi dan identifikasi korban berjalan sesuai prosedur kemanusiaan dan standar internasional.

Hingga kini, Tim SAR Gabungan masih melanjutkan proses pencarian serta pengamanan bagian pesawat lainnya guna mendukung penyelidikan lanjutan terkait kecelakaan ATR 42-500 tersebut.
Daftar Hitam News.Id akan terus menyajikan perkembangan terbaru secara berimbang, faktual, dan bertanggung jawab.

Redaksi :daftarhitamnews.id

Editor : Galang

Kategori Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Popular

Recent Comments

error: Konten dilindungi!!