Makassar || Daftar Hitam News.Id — Indonesia baru saja memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan, sebuah momentum sakral yang selalu dinanti. Namun, perayaan kali ini diwarnai oleh peristiwa yang mengusik hati nurani bangsa. Senin 18/08/25.
Di beberapa daerah, termasuk Surabaya dan Mamasa, insiden bendera Merah Putih terbalik terjadi saat prosesi pengibaran sebuah momen yang semestinya menjadi lambang kesakralan, justru ternodai oleh kelalaian.
Pertanyaan pun menyeruak: ada apa gerangan di tahun ini? Mengapa simbol negara, Sang Saka Merah Putih, bisa terbalik di tengah upacara sakral yang telah puluhan tahun dilaksanakan dengan penuh khidmat? Apakah ini semata-mata kelalaian teknis, ataukah sebuah teguran halus dari alam dan sejarah, bahwa bangsa ini mulai tergelincir dari amanah para pejuang?
Para pendiri bangsa telah menitipkan dasar negara melalui Pancasila yang memuat lima sila, serta Undang-Undang Dasar 1945 sebagai pijakan abadi.
Namun, dalam perjalanan beberapa dekade terakhir, kebijakan demi kebijakan pemerintah kerap dipersoalkan: apakah masih sejalan dengan nilai keadilan sosial? Apakah masih berpihak pada rakyat? Ataukah semakin jauh dari cita-cita luhur yang diperjuangkan dengan darah dan air mata?
Insiden bendera terbalik di Surabaya dan Mamasa memang segera diperbaiki. Para pejabat menyebutnya sebagai kelalaian teknis, sementara anggota Paskibraka bahkan menangis histeris menanggung beban moral.
Tetapi di balik itu, masyarakat seakan mendapat pesan simbolis: jangan sampai Merah Putih benar-benar terbalik dalam makna yang lebih dalam—bahwa bangsa ini kehilangan arah dari jati dirinya.
Delapan dekade Indonesia merdeka, insiden ini bisa menjadi pengingat. Apakah bangsa ini masih setia pada janji kemerdekaan, atau justru mulai mengabaikan pesan luhur Pancasila dan UUD 1945?
Pertanyaan itu kini menggema di tengah hiruk pikuk perayaan. Dan mungkin, jawabannya ada pada bagaimana pemerintah, elite, dan seluruh rakyat menegakkan kembali semangat persatuan, keadilan, dan keberanian, sebagaimana pernah diteladankan oleh para pejuang kemerdekaan.
Lp: Galang