Makassar || Daftar Hitam News.Id — Bulan Agustus 2025 yang seharusnya menjadi puncak perayaan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, justru berubah menjadi bulan kelam.
Rangkaian pernyataan elit politik hingga tindakan represif aparat telah memicu gelombang amarah rakyat yang meledak di berbagai daerah.
Semua bermula dari ucapan anggota DPR RI dari Partai NasDem, Sahroni, yang menyebut rakyat “tolol” ketika menggaungkan aspirasi pembubaran DPR. Ucapan arogan itu disusul oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut “guru adalah beban negara”. Dua kalimat yang mencederai hati rakyat, seakan menampar wajah bangsa yang sedang memperingati kemerdekaan.
Namun bom waktu itu benar-benar meledak saat Satbrimobda Polda Metro Jaya dengan kendaraan taktis menggilas seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, hingga tewas.
Tragedi ini menjadi percikan api yang membakar amarah publik, menyulut aksi besar-besaran di berbagai kota.
Ledakan sosial paling keras terjadi di Makassar. Massa yang marah melampiaskan kemuakan mereka terhadap lembaga negara. Dua gedung DPRD Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan hangus terbakar, sementara kantor Kejati Sulsel turut menjadi sasaran kemarahan rakyat.
Kebakaran itu bukan sekadar peristiwa kriminal, melainkan simbol: simbol runtuhnya kepercayaan publik terhadap wakil rakyat dan aparat negara.
Kata “tolol” dan “beban” dari elit politik menjadi bensin. Tindakan brutal aparat yang merenggut nyawa Affan Kurniawan menjadi pemicu ledakan. Gabungan keduanya melahirkan krisis sosial yang kini tengah bergelora.
Di usia 80 tahun kemerdekaan, rakyat kembali diingatkan bahwa demokrasi bisa kehilangan maknanya jika wakil rakyat menghina rakyatnya, pemerintah merendahkan guru, dan aparat bertindak sewenang-wenang.
Pimpinan Redaksi Daftar Hitam News.id, Galang, menyampaikan kritik keras atas situasi ini:
“Pernyataan Sahroni yang menyebut rakyat ‘tolol’ dan Sri Mulyani yang menyebut guru ‘beban negara’ adalah bentuk arogansi elit yang merendahkan martabat bangsa. Jika tanpa rakyat, mereka tidak mungkin duduk di kursi kekuasaan, dan tanpa guru, mereka tidak mungkin bisa membaca teks APBN sekalipun. Jika Sri Mulyani menganggap guru sebagai beban, maka mungkin beliau dulu menempuh pendidikan lewat perdukunan. Pernyataan ini adalah tamparan keras bagi logika publik.”
“Tragedi Affan Kurniawan yang digilas kendaraan taktis Brimob adalah puncak dari bom waktu yang telah lama disulut oleh ucapan-ucapan elit. Maka jangan salahkan rakyat bila gedung-gedung DPR terbakar. Itu bukan sekadar api, itu adalah simbol perlawanan.”
Agustus ini bukan sekadar peringatan kemerdekaan. Agustus ini adalah peringatan keras bahwa negara sedang berjalan di atas bara. Jika elit terus menghina rakyat dan aparat terus menindas, maka jangan kaget bila sejarah akan menulis ulang dirinya melalui tangan rakyat yang bersatu.
Lp: Galang