Makassar || Daftar Hitam News.Id — Tangis seorang ibu pecah di tengah jalanan. Di pelukannya, terbaring tubuh kecil NW (8), siswi kelas 4 sekolah dasar yang tak lagi bernyawa. Beberapa jam sebelum ajal menjemput, bocah itu sempat bertanya polos kepada ibunya:
“Ma, kenapa kita miskin? Saya mau sekolah tinggi supaya bisa belikan mama rumah.”
Hari itu, NW meminta makan. Namun sang ibu hanya bisa menjawab lirih, tak ada nasi di rumah. Demi bertahan hidup, NW diminta menjual tisu di jalan. Naas, ia dilindas alat berat saat berjualan.
Tragedi ini bukan satu-satunya.
Beberapa hari sebelumnya, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seorang anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya sendiri.
Dugaan sementara, tekanan ekonomi keluarga dan ketidakmampuan membeli buku serta alat tulis menjadi pemicu keputusasaan bocah tersebut.
Dua anak. Dua kisah nyata. Satu akar masalah: kemiskinan ekstrem.
Kasus serupa dilaporkan tidak hanya di NTT, tetapi juga di Sulawesi Tenggara dan sejumlah daerah lain.
Anak-anak terpaksa bekerja di usia dini, kehilangan hak dasar atas pendidikan, gizi, dan rasa aman, hak yang seharusnya dijamin negara.
Ironisnya, tragedi ini terjadi di tengah janji besar pembangunan dan program bantuan sosial nasional.
Di Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, masyarakat mempertanyakan efektivitas kebijakan penanggulangan kemiskinan. Salah satu sorotan datang dari program bantuan pangan.
Sejumlah orang tua murid mengeluhkan bantuan makanan siap saji yang dinilai tidak layak konsumsi bahkan disebut menyebabkan keracunan.
Muncul usulan agar bantuan dialihkan dalam bentuk uang tunai langsung kepada orang tua murid, agar kebutuhan dasar keluarga dapat dipenuhi secara fleksibel dan bermartabat.
Di media sosial khususnya di salah satu tiktok dimana Rokcy Gerung Menyampaikan mengenai adanya kucuran dana fantastis disebut mencapai Rp70 triliun, yang dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Indonesia.
Hingga kini, klaim tersebut belum disertai penjelasan resmi yang terverifikasi.
Namun, isu ini memicu satu pertanyaan besar di tengah masyarakat:
Jika dana sebesar itu benar ada, ke mana alirannya? Dan mengapa masih ada anak yang mati karena lapar dan kemiskinan?
Seruan Kemanusiaan datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PAKAR menegaskan bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan tragedi nyata yang merenggut nyawa dan masa depan.
“Negara gagal bila anak harus mati karena lapar, atau putus asa karena tak mampu membeli buku,” ujar Tenriwara.
Kisah NW dan anak di Ngada adalah pengingat keras: pembangunan tak boleh hanya bicara angka, investasi, dan anggaran. Yang paling mendesak adalah menyelamatkan nyawa dan masa depan anak-anak Indonesia.
Karena bagi mereka, bantuan yang terlambat adalah bantuan yang tak pernah sampai.
Redaksi: daftarhitamnews.Id
Sumber Berita: Berdasarkan Video Viral
Editor: Galang
