Jakarta || Daftar Hitam News. Id — Peristiwa tragis yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (ojol) usai tergilas kendaraan taktis Brimob di depan Gedung DPR RI, Kamis (28/8), kembali memantik gelombang ketidakpercayaan publik terhadap institusi Polri.
Video viral yang merekam jelas bagaimana kendaraan taktis itu justru terus melaju meski teriakan massa meminta berhenti, mempertegas tudingan bahwa polisi kini kerap bertindak brutal, jauh dari fungsi utamanya sebagai pelindung rakyat.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memang segera mendatangi rumah sakit tempat korban dirawat sebelum akhirnya meninggal dunia. Ia meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat serta menegaskan tujuh anggota Brimob yang berada dalam kendaraan telah diperiksa intensif oleh Divisi Propam.
Namun, permintaan maaf itu tidak cukup menutup luka, karena publik melihat tragedi ini bukanlah kasus tunggal melainkan bagian dari pola panjang penyimpangan aparat kepolisian.
Tragedi ojol ini hanyalah satu episode terbaru dari serangkaian kasus yang menyeret Polri ke dalam pusaran krisis integritas. Beberapa peristiwa besar yang masih segar dalam ingatan publik antara lain:
Kasus Ferdy Sambo (2022) Skandal pembunuhan berencana terhadap Brigadir J yang menyeret petinggi Polri hingga ke meja hijau. Kasus ini memperlihatkan bagaimana aparat bisa tega menghabisi nyawa sesama anggota demi menutupi aib.
Tragedi Kanjuruhan (2022) Gas air mata yang ditembakkan polisi ke tribun stadion menjadi salah satu faktor utama yang memicu tewasnya ratusan suporter sepak bola, menjadikan peristiwa ini tragedi olahraga paling kelam di Indonesia.
Kasus Narkoba Oknum Polisi Beberapa kali mencuat penangkapan aparat kepolisian yang justru terlibat dalam jaringan narkoba, baik sebagai pengguna maupun pengedar.
Pemerasan dan Kriminalisasi Berbagai laporan masyarakat terkait praktik pemerasan, jual beli perkara, hingga kriminalisasi aktivis masih menjadi fenomena berulang yang merusak citra Polri.
Rangkaian kasus itu mempertegas pandangan sebagian masyarakat bahwa polisi kini bukan lagi pelindung, tetapi justru ancaman. Dalam konteks tragedi ojol, masyarakat menyaksikan langsung bagaimana aparat lebih memilih mengedepankan kekuatan taktis ketimbang keselamatan nyawa warga sipil.
“Institusi Polri menghadapi krisis moral yang serius. Dari semboyan melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, kini berubah menjadi aparat yang cenderung represif, bahkan membahayakan rakyat,” ujar seorang peneliti hukum dari salah satu lembaga independen.
Kapolri berulang kali menjanjikan reformasi internal. Namun, dengan sederet kasus besar dan kini tragedi ojol tergilas Brimob, publik mulai meragukan kesungguhan reformasi tersebut. Pertanyaan yang mengemuka:
Apakah proses hukum terhadap tujuh anggota Brimob benar-benar akan berjalan transparan?
Apakah tragedi ini akan berhenti pada sekadar “permintaan maaf”dan penindakan internal”?
Atau akan menjadi momentum perbaikan serius yang menyentuh akar budaya kekerasan di tubuh Polri?
Tragedi ojol tergilas Brimob bukan sekadar kecelakaan. Ia adalah simbol kegagalan sistemik Polri dalam menjaga marwahnya sebagai pengayom masyarakat.
Tanpa perbaikan serius, Polri berisiko kehilangan legitimasi di mata rakyat, dan itu lebih berbahaya daripada sekadar sorotan tajam media: itu berarti runtuhnya kepercayaan publik terhadap aparat hukum negara.
Lp: Galang