Makassar || Daftar Hitam News.Id — Ketika batu dan anak panah masih melayang di tengah bentrokan warga, sebuah sosok justru berjalan mendekati sumber kericuhan.
Tanpa mengenakan perlengkapan pelindung tubuh sebagaimana yang digunakan sebagian personel kepolisian di lapangan, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana memilih turun langsung ke tengah masyarakat.
Langkahnya tertuju ke kawasan Aditarina/Kodam, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, yang saat itu sedang dilanda ketegangan akibat perseteruan terkait penguasaan lahan.
Puluhan massa dari pihak yang disebut sebagai pemenang lahan datang dengan maksud memasang papan bicara. Namun, kedatangan mereka ditolak warga yang selama ini menguasai kawasan Aditarina/Kodam.
Akses jalan kemudian diblokade menggunakan kayu dan ban bekas. Ruas jalan poros dari Borong menuju Antang maupun arah sebaliknya ikut terdampak sehingga sejumlah pengguna jalan terpaksa mencari jalur alternatif.
Ketegangan semakin membesar setelah warga Bitoa Lama yang berada tidak jauh dari kawasan tersebut ikut bereaksi terhadap aksi blokade.
Informasi mengenai adanya sepeda motor warga Bitoa Lama yang diduga mengalami kerusakan turut memperkeruh keadaan. Namun, penyebab pasti kerusakan kendaraan tersebut masih membutuhkan konfirmasi dari pihak-pihak terkait.
Batu beterbangan. Anak panah atau busur digunakan dalam kericuhan. Sejumlah warga dilaporkan mengalami luka.
Di lokasi lain, sekitar Waduk Borong, kelompok warga Aditarina/Kodam juga berhadapan dengan massa yang disebut sebagai pendukung pihak pemenang lahan.
Dua titik bentrokan terjadi dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Di tengah situasi tersebut, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana datang.
Namun, ia tidak memilih berdiri jauh di belakang barisan personel.
Arya justru berjalan maju.Mendekati pintu gerbang kawasan Aditarina/Kodam.
Beberapa personel Sabhara berada di sejumlah sisi untuk memberikan pengamanan. Sementara Arya Perdana terus melangkahkan kaki menuju kerumunan warga.
Saat itu, ancaman batu dan busur belum sepenuhnya berhenti. Sejumlah warga bahkan berteriak memperingatkannya.
“Hati-hati, Pak! Batu dan busur, nanti kena Bapak Arya!”
Arya hanya tersenyum Tangannya melambai Seolah mengucapkan terima kasih atas peringatan warga Kemudian ia kembali melangkah Tidak mundur.
Beberapa anggota Jatanras yang berada di lokasi memberikan isyarat agar warga menghentikan aksi saling serang.
Namun, perhatian warga mulai tertuju kepada sosok Kapolrestabes Makassar yang berdiri di tengah mereka.
Saat warga menyadari bahwa orang nomor satu di jajaran Polrestabes Makassar tersebut berada di tengah kerumunan tanpa perlengkapan pelindung seperti yang digunakan sebagian personel di lapangan, suasana perlahan berubah.
Pelontaran batu berhenti.
Busur diturunkan.
Kerumunan mulai memberikan perhatian.
Arya kemudian mengambil mikrofon.
Dengan suara tegas, ia memperkenalkan dirinya.
“Saya Kapolrestabes Makassar.”
Sorakan warga langsung pecah.
“Hidup Arya! Hidup Arya! Hidup Pak Kapolres!”
Untuk beberapa saat, ketegangan yang sebelumnya memenuhi kawasan tersebut berubah menjadi suasana yang jauh lebih terkendali.
Arya kemudian menyampaikan pesan yang menjadi inti kedatangannya.
“Kehadiran kami di sini tidak berpihak ke mana pun.”
Menurutnya, polisi berada di tengah masyarakat untuk memastikan seluruh warga mendapatkan rasa aman.
“Kami hadir hanya untuk memberikan pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat Makassar, khususnya warga Aditarina/Kodam dan masyarakat lainnya yang berada di sekitarnya,” tegasnya.
“Silakan Perjuangkan Hak, Tapi Jangan Tutup Jalan”
Arya Perdana kemudian meminta warga tidak menutup akses jalan yang digunakan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tetap mempunyai hak memperjuangkan apa yang diyakini sebagai hak mereka.
Namun, perjuangan tersebut harus dilakukan tanpa mengganggu ketertiban umum.
“Silakan memperjuangkan hak kalian. Kami tidak melarang. Menyampaikan pendapat di depan umum juga kami tidak melarang, selama tidak mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.
Terkait penggunaan gas air mata oleh personel kepolisian, Arya menyebut tindakan tersebut dilakukan untuk membubarkan kerumunan yang berpotensi memicu keributan lebih besar.
Di hadapan warga, Kapolrestabes Makassar juga menyampaikan bahwa massa yang sebelumnya hendak memasang papan bicara telah dipukul mundur.
“Kami sudah memukul mundur massa yang akan melakukan pemasangan papan bicara,” kata Arya.
Ia juga memberikan jaminan kepada warga Aditarina/Kodam.
“Kami jamin tidak akan ada massa yang akan memasuki lahan Anda tanpa seizin dari kami.”
Pernyataan tersebut kembali disambut sorakan warga.
Arya kemudian mengatakan akan menempatkan sejumlah personel di sekitar pintu gerbang untuk memastikan situasi tetap aman.
Namun, di balik pengamanan tersebut, ia kembali menegaskan satu hal: persoalan lahan harus diselesaikan melalui jalur hukum.
“Semuanya harus menempuh jalur hukum yang telah disediakan oleh negara,” tegasnya.
Kehadiran Arya Perdana di tengah bentrokan menjadi salah satu momen paling mencolok dalam kericuhan tersebut.
Ketika warga berhadapan, polisi berada di antara dua kepentingan yang sedang berseteru.
Dan ketika batu serta busur menjadi bagian dari ketegangan, Kapolrestabes Makassar justru memilih mendekat.
Bukan untuk menentukan siapa yang benar.
Bukan untuk memutuskan siapa pemilik lahan.
Tetapi untuk memastikan konflik tidak berubah menjadi tragedi yang lebih besar.
Persoalan kepemilikan maupun penguasaan lahan Aditarina/Kodam selanjutnya tetap harus dibuktikan melalui mekanisme hukum dan lembaga yang memiliki kewenangan.
Di tengah panasnya konflik, satu pesan Kapolrestabes Makassar menjadi penutup: perjuangkan hak melalui hukum, tetapi jangan biarkan perbedaan berubah menjadi pertumpahan darah.
Redaksi :daftarhitamnews.Id
Editor : Galang


